PR IPM Mu'allimin Tuntas Berakuntabilitas

Tadi malam, Rabu 14 Desember 2016 telah diselenggarakan Closing Ceremony Semarak Ikatan Pelajar Muhammadiyah Mu'allimin yang ke 22 di Lapangan Tengah Mu'allimin. Kegiatan tersebut merupakan acara puncak dari serangkan SIM #22 tahun ini.

Peserta kelas 1,2 dan 3 mulai berdatangan ketika matahari mulai tenggelam. Adzan maghrib berkumandang dan kemudian peserta melakukan sholat berjamaah di lapangan tengah, setelah itu diisi oleh kultum dan makan malam di ruang makan.

Sehabis sholat isya, panitia mulai berdatangan dan peserta mulai mengkondisikan diri, peserta masuk melewati gedung utama yang disana sudah disiapkan Museum Organtri, setiap organtri menampilkan stannya masing-masing.



Setelah itu peserta masuk kedalam lapangan dan duduk sembari menunggu acara dimulai, adapun sambutan pertama diberikan oleh ketua Panitia SIM #22 Ipmawan Ahmad Ashim Muttaqin, selanjutnya sambutan ketua IPM Ipmawan Wafiq Ulinnuha dan akhir sambutan dari wakil madrasah Ustadz Dedik Fatkul Anwar sekaligus membakar kertas sebagai simbolis berakhirnya SIM #22.

Dan selanjutnya adalah acara inti, yakni pembagian hadiah dan hiburan. Setelah itu acara ditutup dengan hujan dan peserta boleh pulang ke asrama masing-masing.
Olimpiade Sains Mu'allimin atau OSM adalah program kerja dari bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan yang paling fenomenal. Adapun tahun ini ada inovasi baru dalam mata pelajarannya, yakni Sejarah.

OSM tahun ini bergabung dengan kegiatan SIM #22 dan mendapatkan jatah pada hari Ahad, 10 Desember 2016 untuk babak penyisihan dan hari Selasa, 12 Desember 2016 untuk babak final.



Babak penyisihan peserta mengerjakan soal esai yang ada di papan tulis dan di babak final peserta mengerjakan soal esai yang ada di kertas. Adapun pemenangnya diumumkan saat Closing Ceremony SIM #22 paa hari Rabu, 14 Desember 2016.
Pagi ini, 10 Desember 2016 telah dilaksanakan perlombaan Liga Nusantara di lapangan tengah Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Liga Nusantara kali ini adalah pertandingan futsal antar organisasi daerah seperti IPMMMATIM, IKMMY, dan lain sebagainya yang termasuk bagian dalam kegiatan SIM #22.

Uniknya, pada perlomban kali ini peserta wajib menggunakan sarung dan sandal sebagai perlengkapan pertandingan. Tentu saja hal ini akan menyulitkan ketika menendang maupun menggiring bola. Tapi semua tetap berjalan seru, apalagi ketika musik berdendang dan pertindingan di pending, karena semua peserta wajib berjoget sesuai dengan irama musik.





Pertandingan berjalan sengit dan seru, serta suasana semakin memanas karena matahari mulai menanjak naik ke atas kepala. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangat bertanding para peserta. Ada yang bermain full time ada juga yang baru bermain setengah pertandingan sudah tumbang.

Sementara di lapangan kecil asrama 1, diselenggarakan juga Lomba Takraw antar angkatan. Dengan personil 3 vs 3, pertandingan berlangsung sangat tegang dan dingin. Sering sekali oara peserta melakukan kesalahan karena ukuran bola yang kecil dan personil yang terlalu sedikit. 

Tapi semua tetap berjalan seru dan damai, tanpa ada kerusuhan sekecilpun
Pada hari Jum'at, 9 Desember 2016 kemarin, telah dilaksanakan salah satu program kerja dari bidang Sosial dan Advokasi PR IPM Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, yakni Reresik Tandang Gawe. Acara tersebut dilaksanakan di lapangan asrama Muadz Bin Jabal B pada pukul 07.00.

Acara pagi itu dibarengin dengan pembukaan secara simbolis Semarak IPM Mu'allimin atau SIM #22, adapun sambutan yang pertama diberikan oleh Ipmawan Ahmad Ashim Muttaqin selaku Ketua Panitia SIM #22, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ipmawan Wafiq Ulinnuha selaku ketua IPM, dan akhirnya sambutan sekaligus pembukaan dilakukan oleh Ustad Erik Tauvani selaku perwakilah madrasah.




Setelah resmi dibuka, dilakukan peluncuran roket air sebagai bentuk simbolis telah dibukanya Semarak IPM Mu'allimin dan RTG. Dalam acara tersebut, peserta yang datang adalah santri kelas 1,2 dan 3, sementara kakak aliyah sebagian menjadi panitia.

Selesai dibuka, dilakukan pembagian kelompok dan kemudian berangkat menuju rute yang telah ditentukan dengan membawa trashbag yang telah disiapkan panitia. Mereka berjalan dengan rute yang berbeda antar angkatan agar tidak terjadi tabrakan pemungutan sampah.

Tak lama kemudian peserta sudah kembali ke lapangan asrama Muadz Bin Jabal yang kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi, kala itu menu sarapannya adalah telur dan minumnya adalah kacang ijo. 

Beberapa menit kemudian usai sudah sesi sarapan, kemudian dilanjutkan dengan sesi hiburan, yakni bermain air dan holy powder sambil berjoget ria, ada pula penampilan trio battle dance antara Kak Faza, Kak Arul dan Dek Tangguh. Mereka bertanding dan mengeluarkan skill joget terbaik mereka masing masing. Setelah itu acara ditutup oleh ketua panitia RTG Ipmawan Iqbal. 


Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir pada hari Senin, 14 November 2016 ini  telah menetapkan 9 nama formatur terpilih pada Kamis 17 November 2016 dini hari pada pukul 03.50 WITA..
Pemilihan Formatur Ikatan Pelajar Muhammadiyah  berdasarkan Hasil Muktamar IPM ke-XX yang dilakukan melalui e-voting dimulai sejak 16 November pukul 16.00 WITA di Samarinda Convention Hall.
Dalam pemilihan ini, seperti dikutip dari laman resmi www.ipm.or.id lebih dari 900 peserta menyalurkan hak suaranya. Ketua Panitia Pemilihan Pusat, Riko Basri Koto mengungkapkan bahwa dalam pemilihan ini, DPT berjumlah 1006, dengan jumlah pemilih 966 dan 40 pemilih tidak menyalurkan hak pilih.
Berikut adalah daftar 9 nama Formatur PP IPM periode 2016-2018 :
1.     M. Abdul Majid                           : 671
2.     Rafika Rachmawati                  : 564
3.     Nurcholis Ali Syabana             : 561
4.     Muhammad Irsyad                    : 559
5.     Hafizh Syafaturrahman             : 548
6.     Khairul Sakti Lubis                    : 542
7.     Ammiruddin Awalin                    : 537
8.     Anshor HS                                   : 510
9.     Velandani Prakoso                     : 483

Setelah penentuan sembilan nama formatur tersebut, akan dilakukan rapat formatur untuk menentukan Ketua Umum PP IPM periode 2016-2018 yang kemudian akan disahkan pada pleno terakhir sekaligus mengesahkan keputusan induk Muktamar IPM ke 20 di Samarinda, Kalimantan Timur.
Uniknya, salah satu alumni Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta berhasil lolos menjadi formatur terpilih, yakni Ipmawan Velandani Prakoso. Beliau adalah alumni Mu'allimin yang sekarang aktif menjadi kabid Perkaderan PW IPM Yogyakarta. Beliau juga mengajar mapel PKN di Mu'allimin.
Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang berlangsung di Samarinda Convention Hall, 12-16 November 2016 disambut baik Ketua Umum  PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang membuka  kegiatan Muktamar.
Pembukaan Muktamar juga dihadiri Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menyempatkan diri memetik Sampe, alat musik tradisional Suku Dayak Kaltim.
Dengan mengambil tema Menggerakkan Daya Kreatif Mendorong Generasi Berkemajuan,  Haedar Nashir dalam sambutannya mengapresiasi prestasi yang dicapai oleh IPM,  dengan berbagai macam penghargaan yang  telah dicapai selama ini, yang disebut Haedar bukanlah gampang untuk diraih.
Pimpiman Pusat Muhammadiyah percaya jika acara Muktamar kali ini akan makin mempererat dan mempertagas posisi peran IPM sebagai ujung tombak kaderisasi bangsa,
“Dari rahim IPM melahirkan generasi Indonesia berkelanjutan, karena IPM adanya bukan dengan retorika dan kata– kata. Tapi telah membuktikan kiprahnya dengan kerja yang cerdas untuk merintis,  mempelopori dan menjadi bagian penting dari kepentingan strategis bangsa ini, yakni melahirkan generasi penerus Bangsa Indonesia, sebagaimana yang menjadi komitmen Muhammadiyah pada dekade terakhir ini,“  papar Haedar.

Menurut Haedar, pihaknya tahu persis IPM punya karakter yang  dituntut  ahlakul qarimah, sejak awal membangun spirit ahlak, adalah bagian dari gerak IPM. Mulai tingkat ranting hingga nasional, yang melahirkan kader IPM bersama Angkatan Muda Muhammdiyah punya watak dan integritas kuat, yakni  kata sejalan dengan tindakan.
Karena saat ini, terang Haedar, bangsa ini memerlukan adab, bahkan pemerintah dengan  pembinaan karakter melalui gerakan revolusi mental, dinilai sesungguhnya telah sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah khususnya IPM, di dalam membina karakter akhlak sejak usia dini.
“Dan itulah makna pendidikan yang sesungguhnya,” bebernya.
IPM dengan semangat literasi diharapkan pula oleh Haedar dapat mendidik anak bangsa menjadi  cerdas dan berilmu. Terlebih saat ini dan masa depan bangsa Indonesia, dihadapkan pada tantangan persaingan dengan Bangsa-Bangsa lain.
           Pada hari Kamis sampai Jumat tanggal 3-4 November 2016 telah dilaksanakan kegiatan Jejak Kader #2. Acara tersebut diikuti oleh seluruh santri kelas 2 tsanawiyah. Pembukaan Jejak Kader 2 dilaksanakan di Masjid Jami' Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta dan dibuka oleh Ipmawan Ahmad Ashim Muttaqin selaku perwakilan IPM. Selanjutnya acara diisi dengan briefing oleh panitia dan fasilitator.

            Seusai mendirikan ibadah sholat Maghrib, peserta dipersilahkan untuk makan malam di Lapangan Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta secara berkelompok. Setelah itu paeserta mendirikan ibadah sholat Isya’ dan dilanjutkan dengan persiapan materi. Materi malam itu diisi oleh Kak Ramadhani Gafar dari PD IPM Kota Yogyakarta yang membahas tentang Perkaderan.


            Setelah materi selesai materi, peserta berkumpul dengan fasilitator masing-masing untuk melaksanakan SGD dan presentasi tentang materi tersebut. Acara dilanjutkan dengan ngobrol bareng bersama Kak Raju dan pemberangkatan kelompok untuk memulai perjalanan malam. Adapun kelompok yang terakhir berangkat pada pukul 23.30. 

            Pada perjalanan malam kali ini terdapat 8 pos yang berupa 7 pos materi dan 1 pos bayangan. Pos-pos tersebut ialah Pos Keislaman, Pos Kesenian, Pos Kemuhammadiyahan, Pos ke-IPM-an, Pos Kemualiminan, Pos Fisik dan Pos Perkaderan. Adapun tempat pemberhentian akhir ada di Masjid Gede Kauman.


            Acara terakhir ialah penutupan Jejak Kader 2 yang dilakukan setelah sholat Subuh di pelataran Masjid Gede Kauman. Acara Jejak Kader 1 ditutup oleh Ipmawan Racha Julian selaku Plt Ketua Umum PR IPM Muallimin periode 2016/2017.
Ada alasan pemerintah menetapkan 22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional. Presiden RI Joko Widodo memaparkan besarnya peran santri bagi bangsa. Hal tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah yang membawa bangsa Indoensia meraih kemerdekaan dari para penjajah.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 di Surabaya untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA. KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwaMembela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas  Para tokoh-tokoh besar yang punya andil itulah yang membuat pemerintah menilai hari santri penting ditetapkan.



Jokowi mengatakan mengingat peran historis para santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti K.H. Hasyim As’yari dari Nahdlatul Ulama, K.H. Ahmmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al-Irsyad dan Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta mengingat pula 17 nama-nama perwira Pembela Tanah Air (Peta) yang berasal dari kalangan santri, pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan

Jokowi yakin, penetapan Hari Santri Nasional itu, tidak akan menimbulkan sekat-sekat sosial atau memicu polarisasi antara santri dengan nonsantri. Justru sebaliknya, akan memperkuat semangat kebangsaan, mempertebal rasa cinta tanah air, memperkokoh integrasi bangsa, serta memperkuat tali persaudaraan.
"Penetapan hari santri nasional dilakukan agar kita selalu ingat untuk meneladani semangat jihad ke-Indonesiaan para pendahulu kita, semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air, semangat rela berkorban untuk bangsa dan negara," kata Jokowi.

Dengan mewarisi semangat itulah, kata Jokowi, para santri masa kini dan masa depan, baik yang di pesantren atau di luar pesantren dapat memperkuat jiwa religius keislaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan. Dengan mewarisi semangat itu, para santri juga akan ingat memperjuangkan kesejahteraan, memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan meningkatkan ilmu pengetahuan/teknologi demi kemajuan bangsa.

"Semangat ini adalah semangat menyatukan dalam keberagaman, semangat menjadi satu untuk Indonesia. Saya percaya dalam keragaman kita sebagai bangsa, baik keragaman suku, keragaman agama, maupun keragaman budaya melekat nilai-nilai untuk saling menghargai, saling menjaga toleransi, dan saling menguatkan tali persaudaraan antaranak bangsa," katanya.

Namun Muhammadiyah bersikap berbeda dalam menanggapi Hari Santri tersebut.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan Muhammadiyah keberatan dengan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Muhammadiyah menilai penetapan Hari Santri Nasional dapat mengganggu ukhuwah umat Islam lewat polarisasi santri-nonsantri yang selama ini mulai mencair.

"Muhammadiyah secara resmi berkeberatan dengan Hari Santri," kata Haedar Nashir

Menurut Haedar, Muhammadiyah tidak ingin umat Islam makin terpolarisasi dalam kategorisasi santri dan nonsantri. Hari Santri akan menguatkan kesan eksklusif di tubuh umat dan bangsa. Padahal, selama ini santri-nonsantri makin mencair dan mengarah konvergensi. "Untuk apa membuat seremonial umat yang justru membuat kita terbelah," ujarnya. 

Apalagi, lanjut Haedar, hari yang dipilih sangat ekskusif dan milik satu kelompok Islam. Hal itu kian menambah kesenjangan yang berpotensi mengganggu ukhuwah umat Islam.

Haedar mengakuti pemerintah dan kelompok Islam bisa saja memaksakan diri menetapkan Hari Santri 22 Oktober karena memang memiliki otoritas. Namun, ia berharap pemerintah arif dalam mengayomi seluruh komponen bangsa.

Haedar menilai umat Islam masih memiliki banyak urusan strategis yang harus dipecahkan bersama.  "Hari besar Islam penting, tapi jauh lebih penting untuk mengagendakan pemecahan bersama sejumlah persoalan besar, seperti kemiskinan umat, ketertinggalan iptek, dan sebagainya. Energi jangan dihabiskan untuk hal-hal yang kontroversial dan kontraproduktif," kata Haedar menegaskan. (masaqin)
author
IPM Mu'allimin
IPM Mu'allimin merupakan Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang terletak di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Berlokasi di Jl. Let Jend S Parman No 68 Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta.